|
M.Nizar Abdurrani │The Globe Journal | Kamis, 15 Oktober 2009
Banda Aceh – Global Warming bukan hanya menyebabkan perubahan iklim semata namun lebih jauh dari pada juga menyebabkan hilangnya kebudayaan lokal. Keujeuren Blang, ahli pertanian tradisional Aceh, tidak bisa lagi mengandalkan “Keuneunong” atau ilmu falak untuk dapat menentukan masa tanam yang tepat.
Demikian terungkap dalam diskusi Climate Change and Poverty, Rabu (14/10) yang dilaksanakan oleh ICAIOS, sebuah institusi penelitian Internasional, di Darussalam Banda Aceh.
Salah seorang peserta dari LSM Prodeelat, Masrianto, mempertanyakan bagaimana memanfaatkan kearifan lokal dalam menentukan musim berubah akibat global warming. “Aceh memiliki kearifan lokal yang digunakan sejak ratusan tahun lalu untuk mempelajari ilmu falak,”katanya. |